Minggu, 14 April 2013

Globalisasi : Antara Harapan dan Kenyataan


Istilah Globalisasi saat ini telah menjadi  istilah populer dikalangan masyarakat dunia. Banyak persepsi dan pemikiran yang dikemukakan dalam melihat globalisasi dari berbagai dimnesi kehidupan telah membuat orang berpikir tentang dampak globalisasi itu terhadap peningkatan Kualitas Hidup Manusia (Human Development Index). Istilah globalisasi sering diartikan sebagai terintegrasikannya negara – negera di dunia menjadi satu kesatuan dalam berbagai forum kerja sama dunia sehingga menafikan batas – batas wilayah negara. Sehingga pada suatu ketika tak akan ada lagi yang namanya negara Indonesia, Irak, Iran, Malaysia atau Arab Saudi, namun yang ada adalah organisasi – organisasi persekutuan negara dunia. Bahkan bisa jadi didunia ini hanya akan ada satu negara saja.
Thomas L. Friedman secara sederhana menggambarkan globalisasi itu sebagai sebuah proses yang telah lama berlangsung sebelum perang dunia I. Ia membagi globalisasi menjadi dua tahapan proses yakni Globalisasi I dan Globalisasi II. Globalisasi I berawal ketika paham kapitalisme meluas hampir ke seluruh negara yang dimotori oleh ekspansi militer. Pada saat itu negara – negara Eropa seperti Inggris, Prancis, Spanyol Portugis yang didukung dengan armada perangnya yang kuat  melakukan berbagai ekspansi dan kolonialisasi terhadap negara – negara miskin yang kaya akan sumber daya alam (termasuk Indonesia). Kekayaan alam yang dikeruk oleh mereka dibawa ke negaranya untuk dinikmati oleh rakyatnya. Keadaan ini berlangsung sangat lama sehingga membawa penderitaan panjang bagi rakyat dinegara –negara “bodoh” ini (maaf). Negara – negara ekspansionis menjadi semakin makmur. Keadaan ini sangat kontradiktif dengan keadaan negara - negara yang menjadi objek ekspansi atau dapat dikatakan negara kolonial. Mereka digerogoti penderitaan panjang. Kemiskinan, kebodoh, kelaparan, adalah sekelumit dari dampak globalisasi yang dapat kita saksikan dibeberapa belahan dunia, bahkan sampai saat ini.
Rezim Globalisasi I diakhiri oleh Perang Dunia I dan diluluhlantakkan oleh Perang Dunia II. Dunia kemudian memasuki era cold war. Pada masa ini terjadi persaingan memperebutkan pengaruh dunia antara paham kapitalisme dan komunisme. Paham kapitalisme dimotori oleh Amerika Serikat bersaing dengan paham Komunisme yang di gerakkan oleh Uni Soviet. Peta politik dunia pun berubah dan terpecah menjadi Blok Barat (AS, dan sekutunya) dan Blok Timur (Unisoviet, Cina, dan sekutunya).
Lewat skenario cantik yang dimainkan oleh Amerika Serikat, persaingan ini akhirnya dimenangkan oleh kapitalisme yang ditandai oleh runtuhnya Tembok Berlin dan pecahnya Uni Soviet menjadi beberapa negara kecil. Sehingga yang ada kini tinggallah paham kapitalisme yang bergandengan tangan dengan demokrasi. Sedangkan Komunisme dengan totalitariannya tinggal menjadi sejarah saja. Kalau pada Globalisasi I yang menjadi aktornya adalah Inggris, Spanyol, Perancis dan Portugis, maka di era Globalisasi II ini yang menjadi aktornya adalah Amerika Serikat lewat ekspansi kebudayaan, Organisasi Dunia (PBB, Bank Dunia, IMF), dan mengekor pula negara – negara yang tergabung dalam G-7 (selain AS juga Jerman, Perancis, Inggris, Italia, Kanada dan Jepang ). Amerika kini berubah menjadi negara adikuasa dan adidaya dengan mengusung paham kapitalisme dan liberalisme melalui senjata globaliasasi.

Globalisasi Gaya Baru (New Globalization)
Revitalisasi globalisasi ini digerakkan oleh paham kapitalisme klasik, teknologi dan demokrasi. Sepanjang yang kami ketahui bahwa sebenarnya paham kapitalisme klasik Adam Smith adalah bertujuan baik. Dalam kapitalisme yang berlaku adalah mekanisme pasar. Para pedagang bersaing menghasilkan produk yang bermutu dan murah sehingga nantinya yang diuntungkan adalah para konsumen. Mereka mendapatkan barang yang murah dan berkualitas pula.
Perkembangan teknologi telah memicu globalisasi. Perkembangan teknologi komunikasi seperti munculnya jaringan internet, televisi, telepon, membuat dunia semakin terasa sempit saja. Informasi mengenai pembantaian zionis Isreal terhadap warga negara Palestina dapat kita saksikan hanya dalam hitungan menit saja. Tidak butuh berhari – hari untuk mendapatkan informasi seperti keadaan yang terjadi dizaman purba dulu. Manusia harus mengarungi lautan dan menempuh perjalanan berhari – hari untuk dapat menyampaikan pesan kepada teman atau orang lain yang berbeda tempat. Kini semuanya serba cepat dan akurat.
Demokrasi juga ikut memberikan andil terhadap kemunculan globalisasi. Globalisasi diperkenalkan ke seluruh dunia melalui konsep demokrasi dengan tujuan agar masyarakat di negara – negara berkembang menginginkan kebebasan. Sebuah kondisi yang cenderung liberal.
Instrumen globalisasi yang ada saat ini dapat dikatakan hampir sama dengan globalisasi “klasik” yang dulu digerakkan oleh negara – negara Eropa. Kalau dulu instrumen yang digunakan adalah ekspansi militer dalam bentuk kolonialisasi, maka sekarang senjata yang digunakan adalah organisasi – organisasi dunia seperti PBB, Bank Dunia dan IMF.

Globalisasi Sebagai Sebuah Jebakan ….?
Banyak yang melihat bahwa globalisasi adalah sebuah angin baru bagi perbaikan perekonomian negara – negara di dunia. Sebenarnya asumsi ini benar. Globalisasi akan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dunia. Namun fakta yang ada sekarang sangat jauh dari harapan tersebut. Lihat saja, banyak negara – negara sedang berkembang (seperti Indonesia) yang kaya akan sumber daya alamnya, malah sampai hari ini masih dililit utang, yang kalau mau jujur kita mengakui bahwa setiap bayi Indonesia yang lahir sudah memiliki hutang. Ironis memang. Sehingga globalisasi yang ada sekarang telah berupah menjadi predatoric globalization.
Kalau kami boleh mengutip apa yang diungkapkan oleh Riant Nugroho D. dan Tri Hanurita S. dalam bukunya yang berjudul Tantangan Indonesia, mereka melihat bahwa globalisasi itu sebenarnya bukan sebuah tantangan tapi jebakan yang mereka sebut sebagai The Pentagon Trap (Jebakan Segi Lima). Kelima jebakan tersebut adalah :

1.    Liberalisasi Perdagangan dan Investasi Dunia
Negara – negara berkembang berusaha melindungi usaha domestik dengan menerapkan regulasi yang ketat disektor ekonomi dan industri. Namun yang namanya kaum kapitalis mereka selalu terilhami oleh konsep yang pernah dikemukakan oleh seorang penasehat Raja Lous XIV yang mengatakan bahwa satu satunya cara untuk mewujudkan perekonomian yang kuat guna meningkatkan kesejahteraan rakyat adalah dengan laissez faire (jangan ganggu Torang). Mereka menginginkan penghapusan aturan dagang, apapun boleh dan pemerintah dilarang untuk ikut campur dalam kegiatan dagang. Mereka menghendaki deregulasi dan privatisasi. Sebuah langkah yang saat ini mulai gencar dilakukan oleh pemerintah kita. Awas…!!! Kita telah masuk dalam perangkap kapitalisme Amerika.
Dengan keunggulan teknologi dan kualitas SDM yang dimiliki maka negara – negara maju memang sulit ditandingi apalagi sampai di ungguli. Sebuah persaingan yang ditak fair dalam kompetisi global. Kami ibaratkan layaknya sebuah perlombaan Grand Prix Motor 500 cc. Dimana Amerika, Inggris, Jerman, Italia, Jepang menunggangi motor dengan kapasitas 500 cc, ditunjang dengan konstruksi motor yang aerodinamis, pengemudi yang pintar, dan tim yang kompak diadu dengan motor 125 cc (negara – negara berkembang) yang konstruksi motor dan keahlian pengendaranya masih kalah dibandingkan dengan motor 500 cc nya kamu kapitalis. Yang menjadi lebih tidak fair lagi adalah di dalam kompetisi itu ada juga yang hanya mengendarai sepeda dan berjalan kaki (negera – negara miskin dan terbelakang). Sehingga realita yang ada bahwa dunia tampak seperti sebuah global shoping mall. Sebuah mall yang sangat besar, hanya sebagian kecil orang yang masuk dan berbelanja. Sementara diluar banyak orang yang dengan air liur yang menetes berdiri dibalik kaca melihat orang yang berbelanja, ingin masuk dan berbelanja tetapi tidak punya uang.
Produk manufaktur memang tak dapat kita pungkiri bahwa negara – negara maju lebih unggul. Apalagi dengan ditandatanganinya General Agrement Of Trade and Tarrifs (GATT) oleh kurang lebih 120 negara di tahun 1996 lalu.
Kalah bersaing di bidang produksi barang, negara – negara berkembang mau tidak mau harus mengalah dan beralih ke sektor jasa. Namun lagi – lagi hegemoni negara – negara maju tetap saja ada. Dengan ditandatanganinya General Agreement Of Tarifs and Service (GATS) memupus harapan kita. Pariwisata, transportasi, bahkan dibidang konsultasi misalnya sudah banyak menjadi sasaran pasar negara – negara maju. Sehingga tak ada lagi pilihan untuk melawan kerakusan negara – negara maju selain survive dan terus menerus meningkatkan mutu barang dan jasa kita.

2.    Demokrasi
Jebakan kedua dari globalisasi adalah demokrasi. Dewasa ini kaum kapitalis khususnya negara Amerika selalu gencar menyuarakan demokrasi terhadap negara – negara dunia. Demokrasi yang dipromosikan tentunya lagi –lagi demokrasi yang ala Amerika. Indonesia belum tentu mampu menerapkan demokrasi ini, mungkin hanya institusinya saja yang mampu kita diadopsi. Sedangkan untuk mengimplementasikannya butuh kesiapan prsikologis dan kultural.
Negara – negara maju seperti Amerika, Inggris dan Perancis misalnya sudah beratus – ratus tahun yang lalu membangun demokrasinya. Sedangkan kita...? Bahkan sebagian orang Indonesia berkata bahwa kita baru belajar tentang demokrasi yang sebenarnya ketika rezim Orde Baru tumbang dan digantikan dengan Orde Reformasi.
Demokrasi merupakan pelicin terhadap arus barang dan jasa yang masuk ke negara kita. Fenomena yang ada sekarang adalah kita cenderung memaknai kebebasan ini secara ekstrim. Dengan minimnya penguasaan konsep demokrasi membuat masyarakat hanyut dalam euforia demokrasi, apalagi setelah era reforamsi. Masyarakat mabuk dengan demokrasi sehingga cenderung mobokrasi. Disisi lain juga partai – partai politik yang ada sangat oligarki. Sehingga yang terjadi kini adalah banyak perbenturan kepentingan. Kepentingan elit dengan masyarakat dan kepentingan antar elit. Akibatnya negara kita tidak pernah lagi memikirkan kesejahteraan dan ancaman globalisasi dalam wujud perdagangan bebas namun sibuk mengurus konflik yang ada didalam neegri..

3.    Hak Asasi Manusia (HAM)
Isu hak asasi manusia saat ini menjadi masalah yang hangat dibicarakan saati ini dan bahkan menjadi salah satu syarat eksistensi sebuah rezim untuk tetap memegang tampuk kekuasaannya.  Tidak berlebihan memang jika pemerintah kita yang dinahkodai SBY – Kalla menjadikan penegakan HAM dan supremasi hukum menjadi salah satu agenda penting nasional.
HAM akan menjadi sebuah isu strategis ketika penembakan terhadap gerilyawan separatis (GAM di Aceh, dan OPM di Papua), penculikan dan penembakan mahasiswa Trisakti, pembantaian warga di Tanjung Priok dilakukan oleh pemerintahan yang telah lama berkuasa. Saat itulah negara – negara maju merasa “ikut bertanggungjawab” terhadap penegakan HAM. Dengan memanfaatkan organisasi dunia PBB (yang identk dengan Amerika) mereka seolah mencari – cari kesalahan pemerintah yang kemudian dijadikan alasan untuk mengintervensi atau mengembargo sebuah negara. Inilah realita Globalisasi...! Campur tangan Amerika sebagai global cop tak dapat dihindari.
Kalau kita melihat pengalaman sebelumnya, bahwa negara Indonesia pernah diberikan sanksi embargo peralatan bersenjata akibat kasus pelanggaran HAM di Timor Timur. Akibatnya TNI tidak mampu berbuat banyak ketika kapal – kapal angkatan laut Malaysia menembaki nelayan kita dengan alasan melanggar batas teritorial. Padahal itu wilayah kita.
Bahkan dengan mengangkat isu HAM pula, kuota ekspor kita ke negara Amerika akan dikurangi. Padahal kita sudah banyak melihat realita bahwa selama ini Amerikalah yang terkesan seperti sebuah negara “penjajah” dan pelanggar HAM. Kasus pembasmian warga negaranya yang berkulit berwarna dan suku Indian didaerah reservasi. Amerika pula yang meluluhlantakkan Irak dibawah pemerintahan Saddam Husein dan memporakporandakan Afganistan yang diklaim menyembunyikan Osama Bin Laden.

4.    Lingkungan Hidup
Sebagian besar negara – negara berkembang berada di jalur khatulistiwa sehingga menjadikan wilayah mereka banyak memiliki potensi hutan. Dengan mempopulerkan slogan environment friendly  yang diusung oleh organisasi – organisasi internasional yang peduli lingkungan hidup, negara – negara berkembang sangat dibatasi mengekploitasi hutannya. Padalah masyarakatnya sangat menggantungkan hidupnya terhadap hasil hutan. Harga kayu di dalam negeri menjadi mahal sementara disisi lain banyak penyelundupan – penyelundupan kayu ke luar negeri. Usaha – usaha kecil menengah khususnya yang berbahan baku kayu menjadi kesulitan untuk mencari kayu yang berkualitas sehingga produknya pun kalah bersaing dengan produk –produk luar negeri yang jauh lebih bermutu. Sementara disisi lain negara – negara industri tidak pernah memberikan semacam kompensasi terhadap negara – negara berkembang atas perlakuan yang tidak wajar ini.
Padahal Amerika sendiri sampai dengan saat ini belum mau menandatangani Protokol Kyoto yang mengharuskan pada negara – negara industri untuk mereduksi industri yang menghasilkan gas – gas yang dapat menimbulkan efek rumah kaca.
Lagi – lagi ini mengindikasikan pertarungan yang tidak fair.

5.    Hak Paten (The Property Rights)
Negara Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan alam yang berlimpah. Dengan kekayaan yang ada, masyarakat justru ditantang untuk mengelola kekayaan alam secara arif dan bijaksana serta selalu melahirkan inovasi –inovasi baru dibidang tekonologi. Sebagai negara yang hampir setiap tahun (sejak diselenggarakan) selalu meraih juara umum pada Ilompiade Sains antar negara tentunya membuktikan bahwa Indonesia juga memiliki “orang orang pintar”.
Meskipun tidak sedikit orang – orang Indonesia yang menemukan formula –formula (lebih banyak di bidang pertanian / botani), namun selalu saja “karya anak bangsa” ini dibajak oleh negara – negara lain dengan cara yang tidak fair. Hasil – hasil penelitian yang dilakukan oleh para “pakar”, dibawa ke negara lain dan akhirnya dipatenkan disana.
Hal ini menyebabkan ketika kita harus membeli dari negara lain barang – barang yang “ramuannya” asli Indonesia. Sehingga bukan saja lisensi namun juga royalti atas penjualan produk yang kita bayarkan kepada mereka. Singapura bahkan memiliki lebih banyak hak paten atas produk dibandingkan Indonesia padahal bukan tidak mungkin itu adalah resep asli Indonesia.
Kurang lebih 97 % hak paten yang ada didunia dimiliki oeh negara – negara maju. Hak paten merupakan senjata ampuh globalisasi untuk memeras kekayaan dan cadangan devisa negara – negara berkembang. Hal ini akan memperlemah nilai tukar mata uang mereka karena mata uang dari negara kapitalis selalu diburu dipasaran valuta untuk membeli barang- barang dari mereka.
Globalisasi sebagaimana dikatakan Friedman adalah bentuk Amerikanisasi. Amerika pasti akan keluar sebagai pemenang dari kompetisi yang tidak sehat ini. Mengapa? Karena yang mengusung konsep globalisasi sekaligus aktornya adalah Amerika sehingga merekalah yang benar – benar lebih siap dibandingkan negara- negara lain apalagi negara – negara miskin dan terbelakang. Hanya ada dua pilihan bagi Amerika, memaksakan globalisasi ke negara lain atau Amerika akan tertinggal sama sekali (atau malah pembangunannya “poco – poco”). Mau tidak mau pilihan pertamalah yang harus mereka ambil.
Bagi Indonesia sebagai salah satu sasaran globalisasi, mau tidak mau harus menerima ekspansi kolosal Amerika melalui globalisasi. Jika kita menolak atau bahkan anti globalisasi maka kita akan “dimusuhi” atau malah dikucilkan oleh negara – negara lain. Tak ada pilihan lain, harus ikut arus.
Globalisasi sendiri seperti telah diuraikan diawal tadi bertujuan untuk mensejahterakan masyarakat dunia. Namun globalisasi telah diubah oleh Amerika menjadi sebuah senjata ampuh yang mematikan layaknya bom atom yang memporakporandakan Nagasaki dan Hiroshima di tahun 1945 lalu.
Kita harus survive, bertarung dan harus menjadi pemenang. Kunci semua itu terletak pada kemampuan kita mengelola organisasi (dalam skala makro adalah negara Indonesia) secara profesional. Ada 3 hal yang perlu dilakukan agar kita mampu keluar sebagai pemenang:
1.    Kemampuan Berkompetisi
Kita harus selalu meningkatkan kompetisi kita dalam menghadapi  globalisasi.  Manamungkin kita bisa unggul atau minimal bisa bersaing dalam globalisasi kalau kompetisi kita tidak menunjang untuk itu. Salah satu kompetisi yang harus kita miliki adalah kompetisi dibidang sumber daya manusia.
Lihatlah Jepang yang porakporanda pada tahun 1945 oleh bom tom kini malah masuk dalam daftar negara – negara elit dan menjadi salah satu anggota G-7. Walaupun dengan sumber daya alam yang terbilang pas – pasan namun mereka mampu menjadikan sumber daya alam yang minim itu sebagai tantangan untuk melahirkan inovasi – inovasi baru dibidang teknologi. Kalau Indonesia memiliki lahan yang luas untuk mengembangkan produksi pertanian, justeru di Jepang lahan yang ada terbilang sempit malah telah digunakan untuk membangun gedung – gedung pencakar langit. Namun dengan keunggulan sumber daya manusianya mereka mampu melahirkan teknologi pertanian berupa tanaman hidroponik yang mampu bersaing dengan hasil – hasil pertanian Indonesia yang alami itu.
Oleh karenanya tidak ada kata terlambat untuk terus meningkatkan kompetisi kita. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Langkah ini dapat dimulai dari memperbaiki sistem pendidikan. Sebuah pondasi awal untuk menciptakan generasi – generasi penerus bangsa yang kompetitif.
2.    Kemampuan Bekerja Sama (kooperatif)
Sebagai bagian dari sistem global tentunya kita harus selalu membina hubungan baik dengan negara – negara lain melalui kerja sama bilateral maupun multilateral. Saat ini Indonesia telah masuk menjadi salah satu anggota APEC (Organisasi Ekonomi Negara – Negara Asia Pasifik), OPEC (Organisasi Negera- Negara Penghasil Minyak), ASEAN bahkan PBB. Kerja sama ini diperlukan untuk membangun jaringan komunikasi antar bangsa agar mampu “melawan” kepentingan – kepentingan negara ekspansionis yang sarat akan kepentingan kolonialisasi.
Untuk itu dibutuhkan seorang pemimpin yang mampu memainkan peranan dalam perpolitikan global. Dibutuhkan pemimpin yang genius, berwibawa  dan tegas dalam mempimpin negara ini agar tidak mudah dipermainkan dan diintervensi oleh negara –negara lain.

3.    Standarisasi
Untuk mampu menjadi “the champion”, kita harus memiliki standar, baik itu standar manajemen profesional maupun standar kualitas sumber daya manusia. Kita harus bisa menata sistem manajemen bangsa agar tujuan negara dapat tercapai yaitu rakyat yang sejahtera yang hidup dalam suasana yang tertib dan aman. Standar manajemen ini bukan saja harus dimiliki oleh pemerintah namun juga oleh pelaku – pelaku usaha untuk bisa bersaing dalam tingkatan global.
Standarisasi bersifat relatif, dan terus mengikuti perkembangan zaman sesuai dengan ruang dan waktu. Bisa jadi standar yang dipakai di Indonesia berbeda dengan yang ada di negara Malaysia atau Singapura. Dan bisa jadi pula ketika kita sudah mencapai standar seperti Malaysia dan Singapura justru standar itu tidak dipakai lagi.
Oleh karena itu standar yang harus kita miliki adalah standar global. Bukan standar domestik atau kampungan. Kita akan menjadi bahan tertawaan ketika kita membawa sebuah produk baru dan kita perkenalkan kepada negara lain sementara produk tersebut telah mereka gunakan berpuluh – puluh tahun yang lalu.
Sekali lagi kami tekankan bahwa tidak ada pilihan lain kecuali bertarung dan jadi pemenang dalam menghadapi virus globalisasi ini. Jangan mau dipecundangi oleh negara – negara lain. Paling tidak kita punya dua modal utama, pertama adalah sumber daya alam yang berlimpah dan kedua penduduk yang potensial.
Sekaranga tinggal bagaimana kemampuan kita mengelola kedua potensi itu menjadi sebuah kekuatan yang mampu mengalahkan Sang Doctor Sam (bukan Uncel Sam lagi). Lagi – lagi kita butuh pemimpin yang berstandar global. Yang mampu mentransfer ilmu dan pengetahuannya menjadi sebuah skill. Yang memiliki komitmen untuk mensejahterakan rakyat dan selalu konsisten menjalankannya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan